Penelusuran Katalog

Data Detail Koleksi


       
       
  Id : 613
  Judul : SINTESIS MEMBRAN BIO-URAI SELULOSA ASETAT DAN ABSORBEN SUPER KARBOKSIMETILSELULOSA DARI SELULOSA AMPAS TEBU LIMBAH PABRIK GULA
  Pengarang : Sri Juari Santosa, Jumina, dan Sri Sudiono
  Contributor :
  Kota Terbit : Yogyakarta
  Penerbit : Lembaga Penelitian UGM
  Tahun Terbit : 2003
  Diskripsi Fisik :
  Subyek : Industri gula, ampas tebu , selulosa, membran bio-urai selulosa asetat , absorben super karboksimetilselulosa
  Bidang : Sains-Teknik
  Publikasi : Karya Ilmiah Hasil Penelitian
 
  Abstrak :
Industri gula selain menghasi1kan gula pasir atau gula tebu sebagai produk utama juga menghasilkan produk samping seperti tetes atau molase, pucuk daun tebu, ampas tebu, dan blotong. Da1am satu pabrik gula dapat dihasilkan ampas tebu sekitar 30 - 35 % dari berat tebu yang digiling. Mengingat di Indonesia terdapat 67 pabrik gula dengan kapasitas giling di tahun 1987 mencapai 172.210 ton tebu per hari (Sugito, 1992), maka akan dihasilkan ampas tebu 51.663 hingga 60.274 ton/hari. Mengingat begitu banyaknya jumlah ampas tebu yang dihasilkan, perlu difikirkan cara penanganan lebih lanjut agar nantinya ampas tebu tidak menimbulkan masalah lingkungan dan bahkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar berbagai produk dengan daya guna dan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Dalam rangka ikut menyelesaikan permasalahan di atas, dalam penelitian ini dilakukan pemanfaatan selulosa dari ampas tebu sebagai bahan utama pembuatan membran bio-urai selulosa asetat dan absorben super karboksimetilselulosa. Pembuatan membran bio-urai selulosa asetat dan karakterisasinya telah selesai dilakukan di tahun I penelitian, sedangkan pembuatan absorben super karboksimetilselulosa beserta karakterisasinya direncanakan dilaksanakan di tahun II. Untuk itu, ringkasan penelitian ini baru memuat hasil penelitian tentang pemanfaatan ampas tebu pabrik gula untuk pembuatan membran selulosa asetat Dalam penelitian ini, sample ampas tebu diperoleh dari Pabik Gula dan Pabrik Spiritus (PGPS) Madukismo, Yogyakarta. Terhadap sampel ampas tebu ini, selanjutnya dilakukan 5 buah perlakuan utama, yaitu: (i) persiapan awal dengan menghaluskan ampas tebu hingga lolos ukuran 100 mesh dan mengeringkan pada suhu 60°C hingga berat konstan, (ii) delignifikasi dengan larutan ammonia 15% (v/v), (iii) hidrolisis hemiselulosa dengan larutan HCl 4% (v/v) selama 3 jam pada suhu 90°C. (iv) sintesis selulosa asetat melalui proses asetilasi selulosa menggur.:lican asam asetat anhidrid, dan (v) pembentukan membran dengan jalan mencampur selulosa asetat yang diperoleh dengan plastisizer gliserol dan builder pati dalam pelarut campuran aseton dan air pada perbandingan volume 4 : 1 dan mencetaknya di permukaan polietilen yang licin. Dengan menggunakan cara kerja yang telah dioptimasi secara cermat diperoleh lignin, hemiselulosa dan selulosa ampas tebu kemumian tinggi masing-masing sebanyak 24,64; 54,4; dan 45,60 %(b/b). Komposisi ini sangat mirip dengan komposisi yang ada dalam ampas tebu dari PG Pesantren Baru, Kediri, Jawa Timur (Santosa dkk., 2001). Asetilasi terhadap selulosa ampas tebu menggunakan asam asetat anhidrid, katalis asam sulfat dan pelarut toluena setelah langkah aktivasi menggunakan larutan asam asetat 3M menghasilkan selulosa asetat dengan derajat asetilasi lebih kecil dari 3. Pada kondisi terbaik, dihasilkan selulosa asetat seberat 1;29 g untuk setiap g bahan dasar selulosa. Uji fisik terhadap selulosa asetat menunjukkan bahwa dengan ditambahkannya plastisizer gliserol sebesar 1% (b/v), daya rentang dan pemanjangan bidang mengalami kenaikan apabila di dalamnya ditambahkan builder pati hingga konsentrasi 2,5 %(b/v). Pemanjangan bidang maksimwn sebesar 28,57 % teramati pada penambahan pati sebesar 2,5 %(b/v). Pemanjangan bidang yang dipunyai oleh membran selulosa asetat ampas tebu ini jauh lebih baik dari pemanjangan bidang maksimum yang dapat dicapai oleh campuran terbaik membran selulosa asetat batang pohon pisang dan polistirena yang hanya sebesar 6, 1 % (Meenakshi dkk., 2002), dan ada dalam kisaran pemanjangan bidang selulosa asetat standard yang terukur sebesar 21 sampai 30 % pada kondisi kering dan 29 sampai 30 % pada kondisi basah (Mansencal, 1999). Uji bio-urai dengan cara penanaman di dalam tanah menunjukkan bahwa hingga waktu penanaman yang masih sangat pendek, yaitu selama 10 hari terjadi penurunan berat sebesar 3,7 %. Penurunan berat ini tentunya masih berlanjut dengan semakin lamanya waktu penanaman.
 
  Bahasa : Indonesia
  Hak Cipta : UGM
  File Upload :
       
       
  [ Ubah Pencarian ]
[ Kembali Ke hasil pencarian ]
       


  Simple Digital Library System
Copyright @2008 UPU Perpustakaan UGM